Benarkah Indonesia Negeri Saba yang Hilang ?

UMMATONLINE.NET – Selama ini diyakini bahwa negeri Saba berada di Yaman. Namun berdasarkan kajian Indonesia Negeri Saba dan Borobudur peninggalan Sulaiman As, bahwa  Negeri Saba itu ada di Indonesia.

Ustadz Fahmi Basya, pimpinan Sains Spiritual Qur’an Dzikrul Lil Alamiin membenarkan adanya jejak Nabi Sulaiman di tanah Jawa yang berjarak waktu 30an abad lebih dan sekitar misteri Candi Borobudur sebagai ‘Arsy Ratu Saba’ yang dipindahkan jin dalam semalam seperti diinpirasi oleh ayat Al Quran terutama surah An Naml.

Setelah kita melakukan penelitian terbukti Negeri Saba itu adalah Indonesia dengan pusat pemerintahan di Jawa. dan Arsy Saba  yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As. adalah Borobudur yang dipindahkan dari Ratu Boko, selama ini orang mengira di Yaman,” ujar lulusan Matematika MIPA UI tahun 1983 ini pada acara Training Tematik GampangUmrah – THE MIRACLE of KABAH di Jakarta, Sabtu lalu.

Secara metodologis, lontaran teori Stumbu didasarkan pada fakta-fakta ayat Al Quran yang difahami secara yang kita fahami secara simbolik berisi simbol-simbol matematis atas budaya penciptaan alam seisinya.  Melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran.

Fahmi menyimpulkan, pertama bahwa penjelasan QS 27:22 tentang negeri Saba tidak ditemukan di Yaman,  sedangkan bukti tersebut ditemukan di Pulau Jawa (Wana Saba). Sedangkan kedua, arti kata Saba (Sabun) tidak ditemukan nama Sabun di Yaman, sedangkan arti lain kata Saba (hutan) juga tidak ditemukan disana. QS 27:24 untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri. Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata ‘Wana’ bermakna hutan. Jadi, “Wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba,” terang Fahmi.

Ketiga, lanjutnya, kandungan ayat QS 27:24 “…dan aku dapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari dari selain Allah”. “Di dalam sejarah tak ditemukan sebuah tempat di Yaman yang masyarakatnya bersujud kepada matahari, sedangkan di Pulau Jawa berlokasi di Komplek Ratu Boko dengan beberapa bukti pendukung,” tutur dosen Matematika UIJ ini.

Bukti keempat, sepeti pada ayat 27:40 adanya bangunan (arsy) yang dipindahkan ke suatu lembah berjarak terbang burung dalam waktu singkat. Tentang siapa yang memindahkan dan bagaimana dipindahkan, tafsir ayat tersebut mengisahkan yang memindah singgasana Ratu Saba adalah JINN IFRID selesai sebelum Nabi Sulaiman mengerlingkan mata.

“Terdapat peran Jin dalam realisasi ruang waktu disini, bahwa makhluk ini memiliki syarat ilmiah memindahkan arsy Saba tersebut ke Lembah Semut. Berdasarkan hukum kecepatan cahaya, makhluk Jin mampu dengan mudah dan super cepat memindahkan suatu bangunan.  Kita tahu, peristiwa seperti ini bukan tidak pernah ada, bahkan terjadi pula di belahan bumi lain,” pungkasnya.

Fakta kelima, lanjutnya. Lokasi kabar dalam QS 6:67 ada ditemukan sisa-sisa dan tandanya di Komplek Ratu Boko yang berjarak 36 Km dari Bukit Stumbu. Letak Bukit Stumbu di desa Karangrejo, sekitar 2,5 Km sebelah barat daya Candi Borobudur, Magelang. Di lembah Stumbu inilah arsy Saba tersebut dipindahkan sebagai kisah rakyat Candi Boko dan Borobudur.  Dalam QS 34:13 “Mereka kerjakan yang ia kehendaki dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring seperti kolah dan kuali-kuali yang tetap.”

Keenam, ayat tentang Saba QS 34:16 ’dan sesuatu yang disebut Sidrin Qolil ’ masih ditemukan bukti sedikit itu pada Gerbang Ratu Boko dan Serpihan Stupa Candi Borobudur.  Bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. “Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman,” tegas Fahmi.

Ayat ketujuh 34:16 “…dengan dua kebun yang mempunyai rasa buah pahit” bisa ditemukan Pulau Jawa.  “Makna buah Maja yang Pahit seperti ini lagi-lagi tidak ditemukan di Negeri Yaman, bagi teori yang menyebut lokasi sejarah Saba,” kata Fahmi.

Kedelapan, peristiwa besar yang disebut dalam QS 34:16 tentang adanya Banjir  yang merubah peta dataran Asia dengan adanya Palung Sunda.  “Maka kami menjadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. “

Bukti kesembilan ini terdapat pada QS 34:19. Fahmi menerangkan, peristiwa banjir dahsyat tersaebut menyebabkan wilayah Saba hancur menjadi berpulau-pulau, belum pernah dalam sejarah kehancuran suatu negeri hingga menjadi lebih 17.000 pulau seperti Nusantara ini.

Kesepuluh, adanya catatan pembatasan pada perjalanan QS 34:18. Jarak perjalanan dimaksud sebatas kekuatan terbang ideal seekor Burung (Hud Hud) sepanjang 36 Km. Angka ini, tambah Fahmi, merupakan bukti kesebelas keberadaan Saba di Jawa Tengah, merupakan jarak antara Komplek Ratu Boko sekarang dengan lokasi Candi Borobudur di Magelang.

Keduabelas, adanya surat Nabi Sulaiman (27:28) yang dibawa burung Hud Hud kepada Ratu Balkis, tiada lain dicampakkan kaki-kaki burung tersebut di pelataran istana Boko yang disebutnya sebagai Sidril Qolil, kata ini dua kali ditemui di dalam Al-Qur’an.

“Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya,” terangnya.

Ketigabelas, adanya taabut peti wasiat. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tingkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.

Dari  QS 27:29-30 Ratu Balqis mengatakan, “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sungguh (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’

Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.

“Inilah beberapa pembuktian secuil kisah Nabi Sulaiman yang sampai kepada pemahaman bahwa Negeri Saba benar-benar terhubung kepada bangunan arsy di Jawa,” kata Fahmi. (hsn)

 

Berita terkait:

17 Comments

  1. sakera says:

    Kehancuran Kaum Saba’

    Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah ia memeluk Islam, maka kaumnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam yang didakwahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

    Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ tetap mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun kemudian, mereka kembali ke agama nenek moyang mereka, menyembah matahari dan bintang-bintang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus tiga belas orang rasul kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 507), akan tetapi mereka tetap tidak mau kembali ke agama monotheisme, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Allah pun mencabut kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada mereka,

    فَأَعْرَضُوْا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ العَرِمِ

    “Tetapi mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir al-‘arim.” (QS. Saba’: 16)

    bendungan marib 2 300×200 Sejarah Kerajaan Saba’

    Penyebab Hancurnya Bendungan Ma’rib

    Penyebab kehancuran bendungan tersebut tentu saja adalah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akibat dari kaum Saba’ yang kufur akan nikmat Allah terhadap mereka. Namun, Allah menciptakan suatu perantara yang bisa diterima oleh logika manusia agar manusia lebih mudah untuk merenungi dan mengambil pelajaran. Di dalam buku-buku tafsir disebutkan, seekor tikus yang lebih besar dari kucing sebagai penyebab runtuhnya bendungan Ma’rib. Subhanallah! Betapa mudahnya Allah menghancurkan bendungan tersebut, meskipun dengan seekor makhluk kecil yang dianggap eremah, tikus.

    Sebab lain yang disebutkan oleh sejarawan adalah terjadinya perang saudara di kalangan rakyat Saba’ sementara bendungan mereka butuh pemugaran karena dirusak oleh musuh-musuh mereka (at-Tahrir wa at-Tanwir, 22: 169), perang saudara tersebut mengalihkan mereka dari memperbaiki bendungan Ma’rib. Allahu a’lam mana yang lebih benar mengenai berita-berita tersebut.

    Bendungan ini hancur sekitara tahun 542 M. Setelah itu, mereka hidup dalam kesulitan, tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh subur di tanah mereka tidak lagi menghasilkan buah seperti sebelum-sebelumnya dan Yaman saat ini termasuk salah satu negeri termiskin dan terkering di Jazirah Arab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’: 16-17)

    Dalam firman-Nya yang lain

    “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl: 112 – 113).

    Kalau kita renungkan kisah kaum Saba’ dengan perenungan yang mendalam, tentu saja kita menemukan suatu kengerian, bagaimana sebuah negeri yang teramat sangat subur, lalu menjadi negeri yang kering dan tandus. Allah mengabadikan kisah kaum Saba’ ini di dalam Alquran dan memberi nama surat yang memuat kisah mereka dengan surat Saba’. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat-ingat apa yang terjadi kepada kaum ini. Demikian pula negeri kita, Indonesia, yang disebut sebagai jamrud katulistiwa, tongkat yang dibuang ke tanah akan menjadi pohon, sebagai gambaran kesuburannya, hendaknya kita merenungi apa yang terjadi pada kaum Saba’ agar kita tidak mengulang kisah perjalan mereka.

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Saba’: 19)

  2. sakera says:

    mana yang bener nich

  3. sakera_bugih Gg 1 pmk (man alim) says:

    Saba’ adalah sebuah kerajaan di abad klasik yang berdiri sejak 1300 SM, terletak di wilayah Yaman saat ini. Kemasyhuran negeri Saba’ benar-benar sesuatu yang fenomenal dan menakjubkan bagi siapa saja yang mengetahui kisahnya.
    Siapakah Saba’ Itu?

    Dalam hadis Farwah bin Musaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Saba’? Apakah Saba’ itu? Apakah ia adalah nama sebuah tempat ataukah nama dari seorang wanita?” Beliau pun menjawab,

    لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وَلَدَ عَشْرَةً مِنَ العَرَبِ، فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ

    “Dia bukanlah nama suatu tempat dan bukan pula nama wanita, tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepeluh orang anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 3988 dan Tirmidzi, no. 3222).

    Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ada tambahan nama-nama dari anak Saba, “Adapun yang menempati wilayah Yaman, mereka adalah: Madzhij, Kindah, al-Azd, al-Asy’ariyun, Anmar, dan Himyar. Dan yang menempati wilayah Syam adalah Lakhm, Judzam, Amilah, dan Ghassan (HR. Ahmad, no. 2898).

    Para sejarawan juga mencatat bahwa nama asli dari Saba’ adalah Abdu asy-Syams. Dan sebagaimana kita ketahui, nama-nama kabilah Arab terambil dari nama anak-anak Saba’.
    Kerajaan Saba’

    Kota marib 300×220 Sejarah Kerajaan Saba’
    Awalnya kerajaan Saba’ dikenal dengan dengan Dinasti Mu’iinah sedangkan raja-raja mereka dijuluki sebagai Mukrib Saba’. Ibu kotanya Sharwah, yang puing-puingnya terletak 50 km ke arah barat laut dari kota Ma’rib. Pada periode inilah bendungan Ma’rib mulai dibangun. Periode ini antara tahun 1300 SM hingga 620 SM. Pada periode berikutnya, antara tahun 620 SM – 115 SM, barulah mereka dikenal dengan nama Saba’. Mereka menjadikan Ma’rib sebagai ibu kotanya.
    Letak Geografi

    Dahulu, secara garis besar wilayah Jazirah Arab dibagi menjadi dua bagian, bagian Utara dan bagian Selatan. Arab bagian Selatan lebih maju dibandingkan Arab bagian Utara. Masyarakat Arab bagian Selatan adalah masyarakat yang dinamis dan memiliki peradaban, mereka telah mengenal kontak dengan dunia internasional karena pelabuhan mereka terbuka bagi pedagang-pedagang asing yang hendak berniaga ke sana. Sementara orang-orang Arab Utara adalah mereka yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan padang pasir, mereka kaku dan lugu karena kurangnya kontak dengan dunia luar. Tentu saja geografi kerajaan Saba’ sangat mempengaruhi bagi kemajuan peradaban mereka.
    Kemakmuran Kaum Saba’

    Kerajaan Saba’ terkenal dengan hasil alamnya yang melimpah, orang-orang pun banyak berhijrah dan bermitra dengan mereka. Perekonomian mereka begitu menggeliat hidup dan sangat dinamis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman mengabarkan tentang kemakmuran kaum Saba’

    لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

    “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

    Kedua kebun tersebut sangat luas dan diapit oleh dua gunung di wilayah Ma’rib. Tanahnya pun sangat subur, menghasilkan berbagai macam buah dan sayuran. Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid rahimahumallah mengisahkan, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kalajengking, dan ular (Tafsir ath-Thabari, 20: 376-377).

    Menurut al-Qusyairi, penyebutan dua kebun tersebut tidak berarti bahwa di Saba’ kala itu hanya terdapat dua kebun itu saja, tapi maksud dari dua kebun itu adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri lembah atau dianatara gunung tersebut. Kebun-kebun di Ma’rib saat itu sangat banyak dan memiliki tanaman yang bervariasi (Fathul Qadir, 4: 422).

    Yang membuat tanah di Ma’rib menjadi subur adalah bendungan Ma’rib atau juga dikenal dengan nama bendungan ‘Arim, bendungan yang panjangnya 620m, lebar 60m, dan tinggi 16m ini mendistribusikan airnya ke ladang-ladang penduduk dan juga menjadi sumber air di wilayah Ma’rib.

    Literatur sejarah menyebutkan bahwa yang membangun bendungan ini adalah Raja Saba’ bin Yasyjub sedangkan buku-buku tafsir mencatumkan nama Ratu Bilqis sebagai pemrakarsa dibangunnya bendungan ini. Ratu Bilqis berinisiatif mendirikan bendungan tersebut lantaran terjadi perebutan sumber air di antara rakyatnya yang mengakibatkan mereka saling bertikai bahkan saling membunuh.

    Dengan dibangunnya bendungan ini, orang-orang Saba’ tidak perlu lagi khawatir akan kehabisan air dan memperbutkan sumber air, karena bendungan tersebut sudah menjamin kebutuhan air mereka, mengairi kebun-kebun dan memberi minum ternak mereka.

  4. sakera_bugih Gg 1 pmk (man alim) says:

    perlu di analisa lagi bro

  5. hanie says:

    sesungguhnya apa yangada dalam al Qur’an merupakan berita dan khabar yang diberikan Allah kepada rosulullah dengan di kuatkan bukti-bukti yang nyata di muka bumi ini, sementara hadist merupakan khabar yang yang disampaikan oleh sahabat, dan ulama pda waktu lampau tanpa di kuatkan dengan bukti autentik, Negri saba’ adalah negri yang subur, dan dipenuhi dengan aneka flora dan fauna, Dieng menjadi bukti kuat akan kesuburan tersebut, dataran tinggi 2500 dpl masih bisa ditanami sayuran dan sangat potensial untuk pengembangan agrobisnis. yang jadi pertanyaan dimana bisa ditemukan daerah dengan ketinggian seperti itu yang masih subur?

  6. rio says:

    terus analisa lagi jarak tempuh burung hud bro. jangan di kait2kan begitu saja. tak penting kita lihat saba itu di mana. yang penting adalah mengambil hikmah dari kisah nabi sulaiman as. yang mengajarkan tauhid kepada ratu saba dan umatnya supaya menyembah hanya kepada allah saja dan tidak menyekutukannya.

  7. winsainsa says:

    kalo cuma bendungan jebol aja itu namanya kecelakaan dan bukan bencana besar

    sedangkan bencana besar itu sampai menghancurkan daratan sehingga lenyap jadi dikamuskan

    KAMI HANCURKAN SEHANCUR-HANCURNYA SEHINGGA TERBATAS PEJALANAN DARAT MEREKA

    jadi kalo hanya bendungan saja itu namanya kecelakaan

    Coba deh di logika

  8. iwan says:

    tar qu’ran di rbah kli yah jadi bahsa jwa kuno ….

  9. sea says:

    Hati-hati dengan teori yang disampaikan, bisa menimbulkan keresahan.. Kecuali kalo teori itu sudah dikaji oleh orang2 yang ahli.. Bukan satu orang ahli.. Dan Alquran bukan punya orang Indonesia saja, tp dunia.. Jadi jangan sembarangan…

  10. sandra says:

    ????

  11. Enstin Muslim says:

    Ya Allah… kalaupun teori Fahmi Basya itu benar, maka tunjukanlahkebenaran itu…, kalaupun ia salah, maka ampunilah, jangan timpakan azdab pada kami…

  12. kid0win says:

    @sea
    Di dunia ini gk ada seorang pun yang ahli. Atas kehendak Allah lah kebenaran itu bisa saja terungkap oleh siapapun, tidak harus ahli tafsir, sejarahwan, arkeolog, tp melalui siapapun yang Allah kehendaki
    Memangnya Ahli tafsir selalu benar? GK

    Dan sekali lagi gk ada yang ahli atau paling ahli di dunia ini bahkan ahli tafsir sekalipun bukan pula yang paling ahli

    itulah keistimewaan Alquran yang bisa dipelajari oleh siapa saja bahkan orang Yahudi juga mulai banyak melakukan penelitian berdasarkan Al Quran

    Jadi Al Quran itu ilmu pengetahuan, kalo berkiblat ma ahli tafsir maka loe gk akan pernah tahu apa itu pengetahuan alias monoton/saklek(kalo ahli tafsir mengatakan itu ya itu gk bisa yang lain) dikarenakan loe asal percaya aja pada ahli tafsir tanpa mengkaji lagi jadinya pikiran loe instan doank

  13. Kman says:

    Tuhan mengatakan mengazab kaum SABA dengan Banjir besar yang mengakibatkan perjalanan antar wilayah (kota) yang tadinya dekat dan aman menjadi jauh dan mengganti kedua kebun mereka dengan kebun yang berisi buah buah yang pahit, Bukan mengazab kaum Saba dengan kekeringan. Jadi sampai sekarang wilayah SABA itu masih subur dan kebun tersebut masih ada serta bekas banjir besar itu juga masih ada, karena Tuhan memelihara segala sesuatu. Apakah bekas bekas Azab Allah yang berkaitan dengan Kaum SABA itu ada di Negeri Yaman ?

  14. Kman says:

    Pengertian Boro
    Boro dalam tulisan ini identik dengan migrasi sirkuler. Boro berasal dari bahasa jawa, dari kata “ngemboro” atau “mboro” yang berartikan meninggalkan desa tempat tinggalnya pindah ke daerah lain (waktunya sementara) dengan tujuan mencari penghasilan, meningkatkan status sosial ekonomi, dan pada saat-saat tertentu ia kembali ke desanya dengan membawa uang (remitan) dan kemudian kembali lagi ke tempat tujuan. Dengan kata lain, boro merupakan usaha seseorang untuk meningkatkan status sosial ekonomi di desanya dengan cara meninggalkan tempat tinggal (sementara) untuk bekerja ditempat tujuan, pada saat-saat tertentu ia kembali ke desanya dengan membawa hasil (remitan) dan kembali lagi ke daerah yang di tuju itu. Adapun lamanya waktu boro yang dilakukan oleh masyarakat desa, beragam dengan rentan waktu minimal 3 (tiga) minggu sampai dengan 3 (tiga) bulan di tempat tujuan, setelah beberapa hari di rumah (kira-kira 1-2 minggu) ia kembali lagi ke tempat tujuan.
    Boro dilakukan tidak hanya dodorong ekonomi saja melainkan juga kepentingan-kepentingan non ekonomi seperti; (1) keinginan mengikuti perintah agama (relegiusitas) (2) menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dan (3) meningkatkan status sosial di tengah masyarakat

    Fakhtafat minhul buduuru
    Telah datang kepada kami pembawa risalah(Ajaran=Tuntunan=Peringatan=Penerang hati)

    Jadi BORO Artinya Mengembara/Hijrah
    Dan BUDUR Artinya Risalah

    BORO BUDUURU  BOROBUDUR

    BOROBUDUR Artinya Tempat Mengembara mencari Tuntunan/ilmu (DARI KITAB Zabur)

  15. Kman says:

    Nama Nama Tempat yang masih menggunakan kata SABA/SOBO sampai sekarang banyak bertebaran di Nusantara ini : ini data dari Kode POS

    147 54191 Lugosobo Gebang Kab. Purworejo Jawa Tengah

    235 68418 Sobo Banyuwangi Kab. Banyuwangi Jawa Timur
    236 58172 Sobo Geyer Kab. Grobogan Jawa Tengah
    237 66365 Sobo Munjungan Kab. Trenggalek Jawa Timur
    238 63552 Sobo Pringkuku Kab. Pacitan Jawa Timur
    239 57375 Sobokerto Ngemplak Kab. Boyolali Jawa Tengah
    240 94771 Sobol Lamala Kab. Banggai Sulawesi Tengah

    241 94884 Sobonon Totikum (Totikung) Kab. Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah
    242 62182 Sobontoro Balen Kab. Bojonegoro Jawa Timur
    243 66232 Sobontoro Boyolangu Kab. Tulungagung Jawa Timur
    244 63395 Sobontoro Karas Kab. Magetan Jawa Timur
    245 62353 Sobontoro Tambakboyo Kab. Tuban Jawa Timur
    246 56272 Soborejo Pringsurat Kab. Temanggung Jawa Tengah

    277 54394 Tersobo Prembun Kab. Kebumen Jawa Tengah

    288 51381 Trisobo Boja Kab. Kendal Jawa Tengah
    289 57376 Trosobo Sambi Kab. Boyolali Jawa Tengah
    290 61257 Trosobo Taman Kab. Sidoarjo Jawa Timur

    293 59463 Wanusobo Kedung Kab. Jepara Jawa Tengah

    307 63572 Wonosobo Ngadirojo Kab. Pacitan Jawa Timur

    308 38768 Wonosobo Penarik Kab. Muko Muko Bengkulu
    309 51273 Wonosobo Reban Kab. Batang Jawa Tengah
    310 98451 Wonosobo Salawati Kab. Sorong Papua Barat
    311 68471 Wonosobo Srono Kab. Banyuwangi Jawa Timur
    312 24581 Wonosobo Wih Pesam Kab. Bener Meriah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)

    66 54175 Hulosobo Kaligesing Kab. Purworejo Jawa Tengah

    70 57784 Jatisobo Jatipuro Kab. Karanganyar Jawa Tengah
    71 57555 Jatisobo Polokarto Kab. Sukoharjo Jawa Tengah

    ini data yang lain :

    Pemakaian Kata Sobo untuk nama tempat
    ‘1. Kelurahan SOBO
    Sobo adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
    ‘2. Kabupaten WONO SOBO
    ‘3.Dusun SOBO
    Dusun Sobo berada kurang lebih 2 Km utara kantor Kabupaten Kediri, tepatnya termasuk wilayah Desa Nambakan Kec. Ngasem Kab. Kediri
    ‘4.Dusun SOBO
    Dusun Sobo desa Sidorejo adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
    ‘5. Dusun SOBO
    dusun SOBO desa SEKAR kecamatan DONOROJO kabupaten PACITAN.
    6. Dusun SOBO
    Desa Sobo,Kecamatan Geyer,Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah
    ‘7. Dusun SOBO
    Dusun SOBO kelurahan Wonokoyo,kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan

    Bukit Gandrung, Dusun Sobo, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, kabupaten Pacitan ,Jawa Timur

    Dusun Sobo, Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jateng
    Dusun Sobo, Desa Saradan, Kecamatan Baturetno, Wonogiri
    Dusun Sobo Kulon, Desa Ketro, Kecamatan Tulakan ,Pacitan

    Kode pos, Sobo
    Kecamatan: Pringkuku
    Kabupaten: Kab. Pacitan
    Provinsi: Jawa Timur
    63552

    Kelurahan/Desa : Sobo
    Kecamatan Munjungan – Kab. Trenggalek
    Provinsi Jawa Timur

    Dusun Sobo Desa Madiredo Kec. Pujon Kabupaten Malang.

    Kode pos, S O B O (Sobo)
    Kecamatan: Golewa
    Kabupaten: Kab. Ngada
    Provinsi: Nusa Tenggara Timur (NTT)
    86461

    Dusun Sobo RT 07/RW 07 Desa Tegalrejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan
    Desa Gemulung, kel. Sobo, kec. Gundih, kab. Grobogan, kota Purwodadi, Jawa Tengah.
    Dsn. Sobokarang Indonesia / Jawa Tengah / Magelang, Secang, SALAMAN

  16. IBNU says:

    DENGAN ADANYA BERITA INI, KITA HARUS LEBIH MENINGKATKAN IMAN DAN TAKWA KEPADA ALLAH SWT.

  17. Hany Sheila says:

    Bagaimana nich apa benar Indonesia ini negeri saba’ yang hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>