Mengapa Perbankan Syariah Dibangun ?

Mohamad Hidayat

UMMATONLINE.NET - Banyaknya kritikan perbankan syariah yang belum menerapkan syariah ditanggapi  yang positif, tidak perlu dibalas dengan kritik pula. Praktisi perbankan syariah harus tawadhu menerima koreksi dari masyarakat. Itu bagian dari dakwah untuk membangun perbankan syariah yang kaffah.  Namun ummat juga sepatutnya memiliki keberpihakan kepada upaya penerapan syariah dibidang ekonomi atau perbankan.

“Bank syariah mungkin ada sisi-sisi yang belum bisa menerapkan syariah karena faktor eksternal, tapi jangan pula mengatakan kembali saja ke riba. Itu sangat disayangkan,” ujar KH. Mohamad Hidayat, anggota DSN MUI (Dewan Nasional Syariah Majelis Ulama Indonesia) Pusat saat berbincang dengan ummatonline.net.
Menurut Hidayat, keberpihakan ini  perlu jika ingin ekonomi syariah itu menjadi ekonomi solusi. Jangan bersikap anti dengan perbankan syariah dengan dalih belum syariah, tapi sebetulnya kita inginnya di bank konvensional.
Ia menjelaskan, perbankan syariah ini masuk dalam dimensi muamalah. Sebagaimana diketahui, azas muamalah itu yang paling puncak adalah berkaitan dengan transaksi bank syariah selama syariat tidak melarangnya. Sehingga dalam menyusun prinsip-prinsip operasional itu lebih banyak aspek-aspek yang bersifat hadiah. Hal ini berbeda dengan syariat yang bersifat ubudiyah.
Karena dalam ibadah itu menunggu, sesuai dengan perintah syariat. Karena perbankan syariah ini merupakan sebuah ijtihad dengan mengkoreksi sistem perbankan konvensional yang ada, tentunya harus dilakukan secara bertahap. Artinya sesuatu yang belum bisa kita capai jangan ditinggalkan seluruh.
Menurutnya, salah satu prinsip dalam dakwah itu bertahap. Belum terpenuhinya prinsip-prinsip syariah itu bisa diakomodir dalam operasional perbankan syariah di Indonesia. Namun upaya untuk mengaplikasi nilai-nilai syariah itu terus dilakukan.  DSN MUI melalui fatwa-fatwanya memposisikan regulator menjadi peraturan positif yang mengikat.
Begitupun dengan Bank Indonesia, ketika mereka akan menerapkan atau mengeluarkan peraturan berdiskusi dengan MUI. “Masyarakat juga diharapkan mensupport, dengan memindahkan dana-dana mereka ke perbankan syariah. Artinya ini harus dilakukan oleh semua pihak, yaitu ulama dan ummat,” tandas Hidayat yang juga sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah bank-bank syariah.
Keterpihakan itu perlu jika kita ingin ekonomi syariah itu menjadi ekonomi solusi. Jangan bersikap anti dengan perbankan syariah dengan dalih belum syariah, tapi sebetulnya kita inginnya di bank konvensional. Sikap seperti ini patut disayangkan. Yang harus dipahami, bahwa motif perbankan syariah dibangun.
Motif Pendirian Bank Syariah.
Hidayat menerangkan, perlu dipahami ada 4 motif didirikannya perbankan syariah. Antara lain alasan ekonomi. Mengapa?  Perbankan syariah menguntungkan, layak di operasionalkan, sistemnya tahan terhadap sistem moneter. Motif ini ada pada semua pemilik bank syariah. Mereka buka karena bank syariah menguntungkan,” ujar Ketua Umum Yayasan Majelis Al Washiyyah ini.
Motif kedua alasan masyarakat. Yaitu masyarakat membutuhkan transaksi yang tidak hanya menguntungkan tetapi juga mereka merasa aman, percaya karena selama ini terjadi kejahatan perbankan konvensional yang dilakukan oleh manajemen bank itu sendiri. “Itu tidak sedikit dana nasabah yang diputar di perjudian di luar negeri. Dana nasabah dijadikan alat spekulasi. Masyarakat ingin dana mereka dikelola secara amanah.
Motif ketiga, adalah alasan moral. Perbankan syariah ini menerapkan prinsip-prinsip moralitas, diantaranya tidak akan menempatkan dana nasabah pada portopolio atau produktifitas merusak moral masyarakat, misalnya industri pornografi, industri hiburan malam, apalagi memberikan pembiayaan kepada pabrik minuman keras. Semua itu dilakukan oleh bank konvensional. Dana kita yang ditabung dipinjam ke usaha-usaha non halal. Ummat harus cermat, kita membanting tulang dengan cara yang halal, tapi dilain pihak kita ikut membantu kredit usaha non halal.
Motif keempat, adalah alasan hukum agama. Bank syariah dipilih karena menghindari riba, spekulasi, transaksi fiktif, suap. Itu sudah menjadi praktek umum di bank konvensional. “Ini menjadi pilar bank syariah di bangun. Kalau menuju kesempurnaan belum karena baru 20 tahun berdiri pada 1992. Ini dekade yang masih disebut balita. Tapi kita melihat penyesuaian pada prinsip syariah itu terus dilakukan, contohnya dewan pengawas syariah di bank-bank syariah, itu sudah masuk pada pengawasan kontrak-kontrak syariah antara nasabah dan bank, antara bank dengan pihak lain dan notaris.
Kemudian dewan pengawas syariah juga ikut bertanggung jawab dalam manajemen resiko. Artinya dewan pengawas syariah ini sudah masuk dari dalam. Namun demikian Badan Syariah Nasional (BSN) terus berupaya agar ketaatan pada prinsip syariah ini terus semakin kaffah. Dan BSN berinisiatif mengeluarkan sertifikasi syariah bagi pengelola bank-bank syariah agar semua pimpinan bank syariah mengerti syariah dan berkomitmen menerapkan syariah.
Bank syariah itu harus memberikan laporan ke bank Indonesia. Dimana bank syariah itu diperiksa setiap semester . Yang diperiksa mengenai akad-akad perbankan, baik produk pendanaan maupun pembiayaan. Produk pendanaan itu misalnya, tabungan, deposito dll, bagaimana akad dan prakteknya. Kemudian juga dalam pembiayaan bagaimana akad dengan nasabah, pola periode pembayarannya, objeknya apa.
Laporan itu akan terbuka, karena sistem bank itu akan diperiksa oleh auditor internal pengawasan dari dalam, audit eksternal dari dewan pengawas syariah, dan audit dari Bank Indonesia. Itu dilakukan berlapis. “Makanya saya ingin membangun moralitas dalam mengelola bank syariah itu. Makanya dalam fit and propertes pimpinan bank-bank syariah itu materi yang diajukan, diskusi yang dilakukan lebih panjang,” ungkapnya.(hsn)

 

Berita terkait:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>