Dharma Wanita Harus Lebih Inovatif dan Kreatif

UmmatOnline.Net–Dharma Wanita sebagai organisasi yang memiliki benang merah dengan birokrasi kepemerintahan dituntut lebih kreatif dan inovatif dengan memunculkan gagasan-gagasan baru yang lebih maju.

“Kita harus berani keluar dari paradigma yang memandang Dharma Wanita hanya sebagai subordinat laki-laki atau suami,” kata Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama, Ny. Indah Suryadharma Ali pada acara halal bihalal Dharma Wanita Persatuan Kemenag di kediaman Jl Widya Chandra Jakarta, Selasa (27/9).

Sebagai organisasi yang terdiri dari pegawai wanita dan istri PNS, kata Indah, Dharma Wanita dituntut ikut menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa. Selama ini, telah menunjukkan kiprah nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan santunan sosial.

“Namun kita tidak boleh berpuas diri karena masyarakat diluar sana masih membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita,” tutur istri Menteri Agama yang juga anggota DPR RI ini.

Menurut Indah, munculnya tokoh-tokoh besar dunia tidak lepas dari peran konkrit kaum wanita- seorang ibu atau istri, baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu tokoh besar yang paling berpengaruh adalah Nabi Muhammad SAW. Di masa awal perjuangannya, Nabi Muhammad mendapat dukungan moral dan material dari istri tercintanya, Khadijah binti Khuwailid.

Halal bihalal Dharma Wanita Kemenag dihadiri para pengurus serta uraian hikmah oleh Ustadzah Prof Dr Tutty Alawiyah, Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT)

Mantan Menteri Peranan Wanita ini dalam uraian hikmahnya mengingatkan kaum wanita agar semakin memperdalam ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan. “Separuh penduduk Indonesia ini wanita, karena itu perannya harus jelas,” kata Tutty.

Menurut Rektor Universitas Islam Assyafiiyah ini, salah satu contoh teladan wanita yang sukses adalah istri Nabi Muhammad Khadijah. Keberhasilan Khadijah mendampingi Rasulullah SAW bukan semata-mata karena ia adalah seorang konglomerat, melainkan juga karena ia mempunyai kelebihan.

“Nabi menikah pada usia 25 tahun, selama 28 tahun tidak poligami hanya dengan Khadijah. Saat Khadijah wafat Nabi menyebut sebagai tahun duka,” tutur penulis buku “Menggapai Panggung Dunia” ini. (KS)

Berita terkait:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>