Kedudukan Mazhab Dalam Islam

Di kalangan umat Islam, sekarang ini ada empat mazhab yang sangat dikenal yaitu; mazhab Hanafi (80-150 H), mazhab Maliki (93-179 H), mazhab Syafi’I (150-204 H), dan mazhab Hambali (164-241 H). Selain empat mazhab itu masih banyak mazhab lain misalnya, mazhab Ja’fari, Syi’ah Imamiah, Syi’ah Zaidiyah Hasan Basyri, as-Tsauri, Daud ad-Dhahiri, dan sebagainya. Masing-masing mazhab mempunyai aturan-aturan dan tata cara hokum tersendiri yang kadang-kadang berbeda dengan mazhab yang lain, terutama mengenai soal-soal furu’iyah.

Sampai saat ini, realitasnya ikhtilaf masih tetap berlangsung di kalangan mazhab. Mereka berselisih paham dalam masalah furu’iyah, akibat keanekaragaman sumber dan aliran mazhab dalam memahami nash dan mengistinbathkan hokum yang tidak ada nashnya. Perselisihan itu terjadi antara kelompok yang memperluas dan yang mempersempit wilayah ijtihad, antara yang memperketat dan memperlonggar persyaratan ijtihad, antara yang cederung rasional dan yang cenderung tekstual berpegang pada zhahir nash, antara yang mewajibkan bermazhab dan yang melarangnya.

Seorang mujtahid bebas berijtihad, asal tidak membatalkan hasil ijtihad orang lain. Berbeda halnya bila seorang mujtahid membatalkan hasil ijtihadnya sendiri (meralat pendapat lama) karena situasi dan kondisi yang berbeda, atau menemukan dalil yang lebih kuat sebagaimana yang terjadi pada seorang mujtahid besar, Imam Syafi’i. Bagaimana beliau meralat hasil ijtihadnya ketika masih tinggal di Irak (qaul qadim) dengan ijtihad baru (qaul jaded) setelah migrasi ke kota metropolis Mesir, karena tuntutan kondisi kondisi yang berbeda, disamping – tentu saja – diketemukannya dalil yang lebih kuat.

Dalam menetapkan hukum, tidak jarang terjadi perbedaan pendapat diantara imam mazhab itu. Walaupun mereka sama-sama merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, disamping sumber hokum lainnya, baik sumber hokum yang muttafaq ‘alaih (disepakati semua mazhab) maupun sumber hokum yang mukhtalaf fih (masih diperselisihkan).

Jalan pikiran para imam mazhab inilah yang perlu kita telaah dan kemudian dibandingkan dengan melacak kekuatan dalil yang digunakan. Tentu saja, komparasi ini dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu latar belakang seorang mujtahid dan dasar argumentasi yang mereka pakai dalam menetapkan putusan hukum.

Perbedaan pendapat (masalah khilafiyah) imam mazhab dalam lapangan hukum (fiqh Islam) sebagai hasil penelitian, tidak perlu dipandang sebagai factor yang melemahkan kedudukan hokum Islam. Bahkan sebaliknya, bias memberikan kelonggaran kepada umat Islam dalam  melaksanakan semua perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai situasi dan kondisi yang dihadapinya. Hal ini sekaligus sebagai indicator, umat Islam bebas memilih salah satu pendapat imam mazhab fiqh menurut keyakinannya, dan bukan menjadi keharusan agar taqlid atau terpaku hanya pada satu pendapat imam mazhab saja.

Kalau ada sikap toleran dan saling pengertian antara pihak yang satu dengan lainnya, tentu perbedaan ijtihad itu tidak perlu dikhawatirkan. Karena hal-hal yang diperselisihkan itu dapat dipertemukan ada jalan keluar yang dapat ditempuh, dan kalau sampai mengalami jalan buntu, masing-masing pihak mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda. Sebaliknya, kalau kurang lapang dada, masalah kecil dapat menjadi besar. Karena masing-masing mempertahankan egoisme, walaupun hati kecilnya mengakui kelemahan pendapat itu. Akibat fanatik mazhab yang dianut, keterbatasan ilmu, atau karena dipengaruhi faktor politis lainnya.

Perbedaan pendapat sebaiknya tidak harus terjadi dalam umat Islam. Perbedaan pendapat seharusnya dapat disatukan. Sebenarnya bukan idealisme seperti ini  yang dituntut. Tetapi tenggang rasa, saling pengertian, dan menghargai pendapat yang berkembang.. Seseorang tidak boleh mengklaim, hanya pendapatnya sendiri yang benar sedang pendapat orang lain salah dan dicampakkan.

Perbedaan pendapat yang terjadi di tengah masyarakat, hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan alamiyah. Ralitas semua itu justeru menandakan bahwa pikiran seseorang itu tidak beku, tidak mandek, dan selalu berkembang secara kreatif. Mengapa kita tidak mengambil contoh nyata, Imam Syafi’i? Imam mazhab ini pernah berbeda pendapat dalam dirinya sendiri, sehingga muncul qaul qadim dan qaul jadid. Sepanjang pengetahuan kita, tidak ada  seorang pun yang berkomentar sinis, Imam Syafi’I itu plin-plan dan tidak konsisten. Malahan disitu terlihat bagaimana keluesan dan keluasan pandangan beliau dalam merespon realitas yang terjadi. Tidak rigid dan jumud, tetapi bersikap responsive, kreatif, dan inovatif. (Moch Bukhori Muslim, MA)

Berita terkait:

1 Comment

  1. senks says:

    subhanalloh kalau semua orang berpikiran seperti ini umat Islam akan kuat, Insya Alloh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>